"Kunci sukses pengelolaan hutan berkelanjutan adalah pemberdayaan masyarakat lokal," kata Nazir Foead, Direktur PT Patala Unggul Gesang, dalam diskusi pengelolaan hutan pada Selasa (21/1).
Menurutnya, masyarakat adat dan komunitas lokal yang bergantung pada hutan harus diberdayakan agar pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Nazir menambahkan bahwa degradasi hutan yang terjadi di Riau bukan hanya masalah ekologi, tetapi juga menyangkut ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, langkah strategis dengan melibatkan lintas sektor sangat penting untuk mengatasi tantangan ini.
Dalam diskusi tersebut, Director FSC Indonesia, Hartono Prabowo, memperkenalkan Remedy Framework, sebuah kebijakan yang tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga memperkuat komunitas lokal.
"Framework ini tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada hutan. Dengan kolaborasi semua pihak, kita dapat menciptakan solusi yang adil dan berkelanjutan," ujar Hartono.
Ia menjelaskan, minimal 20 persen kawasan yang dikelola harus dilindungi secara ketat. Prosesnya diawasi melalui audit independen serta konsultasi publik untuk memastikan transparansi.
Deputy Director Pusat Sains Kelapa Sawit Instiper, Agus Setyarso, menggarisbawahi pentingnya menempatkan budaya Melayu sebagai inti dari restorasi hutan di Riau.
"Budaya Melayu mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Program FSC adalah kesempatan untuk mengembalikan prinsip tersebut dalam pengelolaan hutan di Riau," katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya transparansi data dan informasi agar semua pihak dapat memahami dan berkontribusi dalam proses remediasi.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Riau (Unri), Meyzi Heriyanto menambahkan bahwa pengelolaan lingkungan yang baik harus menjunjung keseimbangan antara aspek budaya, ekonomi, dan ekologi.
"Kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok adat dan termarjinalkan, harus menjadi fokus utama. Jika kita ingin sukses, semua pihak harus terlibat secara aktif," tegasnya.
Dengan melibatkan budaya Melayu sebagai landasan, FSC optimistis Riau dapat menjadi contoh pengelolaan hutan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.
"Restorasi bukan hanya soal memulihkan hutan, tetapi juga tentang mengembalikan harmoni antara manusia dan alam," tutup Hartono.